Rabu, 14 April 2010

Bajak Laut di Nusantara


Seringkali kita mendengar berita tentang pembajakan kapal-kapal asing oleh para perompak atau bajak laut di perairan internasional. Misalnya saja kasus di awal tahun 2010 yang menimpa sebuah kapal kargo dan kapal tanker bermuatan kimia, dibajak oleh bajak laut di perairan lepas pantai Somalia.

Bajak laut (pirate) adalah para perampok di laut yang bertindak di luar segala hukum. Kata pirate berasal dari bahasa Yunani yang berarti 'yang menyerang', 'yang merampok'. Dalam Bahasa Indonesia dan Melayu sebutan lain untuk bajak laut, lanun, berasal dari nama lain salah satu suku maritim di Indonesia dan Malaysia, Orang Laut. Bisa dikatakan bahwa sejarah pembajakan terjadi secara bersamaan dengan sejarah navigasi. Di mana terdapat kapal-kapal yang mengangkut dagangan, muncul bajak laut yang siap memilikinya secara paksa. Sejak zaman Yunani dan Romawi kuno telah dikenal terjadinya pembajakan oleh para perampok laut.

Pembajakan ternyata juga banyak terjadi di perairan Nusantara pada masa dahulu. Tepatnya Pada tahun 1666 terjadi perompakan yang menimpa sebuah perahu VOC yang sedang berlabuh di bandar Surabaya. Oleh para pembajak setelah perahu dirusak kemudian dibakar. Akibat kejadian itu maka VOC mengumumkan akan memberi hadiah uang kepada siapa pun yang dapat menangkap perompak yang ternyata bernama Intjeh Cohdja. Barang siapa yang menangkap dalam keadaan hidup akan mendapatkan imbalan sebesar 100 ringgit, sedang untuk menangkap dalam keadaan mati diberi hadiah 50 ringgit. Sementara itu, jika dapat menangkap anak buah dari Intjeh Cohdja dalam keadaan hidup dihadiahi 10 ringgit, sedang dalam keadaan mati sebesar 5 ringgit. Bagi siapa saja yang dapat merampas perahu dari Intjeh Chodja, diperbolehkan memiliki perahu itu beserta muatannya.

Sumber VOC tahun 1685 juga menyebutkan bahwa di Surabaya dan di daerah-daerah lainnya di ujung Timur pulau Jawa (Oosthoek) tersiar nama seorang bajak laut yang terkenal bernama Wassingrana. Singkat cerita bajak laut itu beserta anak buahnya dari Makasar bernama “Winantacca” berhasil ditangkap dan dihukum mati oleh para bupati pantai kawasan tersebut. Setelah tewasnya pembajak-pembajak itu, para bupati mengharapkan keadaan pantai dan pelayaran menjadi aman kembali, karena selama itu para bajak laut banyak mengganggu pelayaran dan kerapkali merampok dan membunuh rakyat kecil.

Akan tetapi, walaupun terus diburu dan ditangkap, kasus pembajakan tidak pernah berhenti. Hal itu yang membuat perahu dagang harus dikawal oleh perahu perang terutama apabila akan melewati tempat-tempat yang diduga menjadi sarang bajak laut. Contohnya, Pulau Bawean yang pada masa dahulu kerap kali digunakan sebagai tempat bersembunyi bajak laut dari berbagai suku bangsa, seperti orang Bugis, Madura, Melayu dan lainnya. Pada abad ke-18 pantai Blambangan juga masih sering digunakan untuk tempat persembunyian bajak laut orang Bugis dan orang Cina.
Pada tahun 1758 perahu Inggris tiba di pantai selatan Lumajang, dalam rangka perjalanan dari Bengkulu menyusuri pantai selatan pulau Jawa untuk seterusnya mengitari ujung Jawa Timur, dan kemudian akan menuju ke barat ke arah Batavia, tiba-tiba perahunya dibajak dan dibakar.

Sumber:
Chijs, J.A. van der, Nederlandsch-Indisch Plakaatboek (, 1602-1811, jilid II (1642-1677), (Batavia’s Gravenhage, 1886).
Tjiptoatmodjo, Frasiscu Assisi Sutjipto, Kota-kota Pantai di Sekitar Selat Madura (Abad XVII sampai Medio Abad XIX), Disertasi Ilmu Sastra Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 1983.
http://id.wikipedia.org/wiki/Perompakan

Selasa, 13 April 2010

Just For Fun (2)




yang menjadi pertanyaan...kenapa ya ditutupin??
ada beberapa kemungkinan:
a. takut ke tembak (karena memang situasi perang)
b. dalam posisi pagar betis (ketika kesebelasan Jerman VS Rusia)
c. Hitler sudah mempelajari toto kromo suku Jawa

Sejarah Korupsi di Dunia




Surat Kabar ataupun Televisi, seperti tidak ada habis-habisnya menampilkan berita tentang korupsi. Kita mungkin berpikir, korupsi hanya terjadi di masa modern saat ini. Tetapi tau kah kalian ternyata korupsi juga memiliki akar sejarah yang panjang. bukan hanya di Indonesia tetapi di dunia.

Korupsi adalah bagian hitam dari perjalanan peradaban manusia secara universal. Hampir semua bangsa berhadapan dengan masalah ini sesuai dengan ukurannya. Korupsi sudah ada ketika zaman kuno yaitu pada peradaban Mesir, Ibrani, Babilonia, Yunani kuno, Cina, Romawi Kuno dan juga di negara-begara Barat (Eropa dan Amerika).
G.R Drdriver J.C. Miles dalam menerjemahkan The Babilonian Constitution menyebut perilaku korup telah mencapai puncak kesempurnaannya sejak sekitar tahun 1200 SM. Saat itu, Hammurabi dari Babilonia yang baru menaiki tahta kekuasaanya, memerintahkan kepada seorang gubernur untuk menyelidiki penggelapan yang melibatkan pegawai pemerintahan di bawahnya. Hammurabi mengancam para pejabat di bawahnya dengan hukuman mati. Di India Kuno korupsi juga merajalela.

Kautilya (abad IV SM), perdana menteri Maurya yang paling terkenal sangat menaruh perhatian terhadap korupsi. Dia selalu menekankan pentingnya moralitas dan kejujuran. Pegawai negara dan keluarganya yang bertindak korup diganjar dengan hukuman mati. Sebagian lain diusir dari kerajaan dan disita harta kekayaannya.
Korupsi dipandang sebagai tindakan amoral dan pelakunya harus mendapatkan ganjaran sangat berat. Hukum moral, bagi masyarakat kuno ini sangat dipatuhi. Di samping memiliki daya paksa (represif), hukum moral juga dipandang sebagai representasi keterlibatan Tuhan dalam persoalan sosial tertentu, karena itu pelakunya tidak bisa diampuni.

Dengan menggunakan pertimbangan semacam inilah, Gaius Verres (115-43 SM), pejabat Negara Romawi kuno yang terbukti melakukan korupsi, diasingkan sekaligus dibunuh. Ini adalah gambaran betapa korupsi telah menjadi masalah sejak ribuan tahun silam.

Hmm...mungkin merajalelanya korupsi di Indonesia karena kurang beratnya sanksi, bahkan para koruptor yang keluar dari penjara mereka seperti pahlawan, tidak ada sanksi sosial sama sekali!! sekali lagi, kita harus banyak belajar dari sejarah...

Senin, 12 April 2010

Hotel Yamato Saat ini





Tanggal 10 November 1945 merupakan hari bersejarah di mana kaum muda Surabaya marah ketika melihat bendera Belanda dikibarkan di atas Hotel Yamato. Mereka kemudian menyerbu, memanjat tiang bendera tersebut dan merobek warna biru dari bendera tersebut dan membuat bendera merah putih Indonesia berkibar. Hari itu selalu dikenang sebagai Hari Pahlawan. Itulah salah satu kenangan dan sejarah penting yang terjadi di hotel ini.

65 tahun kemudian, Hotel Yamato masih tetap beroperasi, kini bangunan tersebut bernama Hotel Majapahit. Hampir tidak ada perubahan dari tampilan hotel tersebut yang kini berusia 100 tahun. Sungguh luar biasa.

Riwayat dari hotel ini sendiri berawal ketika ada keluarga asal Armenia yang memang bergelut dalam bisnis hotel, yaitu Lucas Martin Sarkies dan saudara-saudaranya yang merupakan para pendiri hotel ini di tahun 1910 dengan nama Oranje Hotel.

Tahun 1936 hotel mengalami penambahan bangunan bagian depan sebagai lobby dengan gaya Art Deco. Penambahan bagian depan tersebut sepertinya merupakan penambahan terakhir di hotel ini karena sampai hari ini bentuk hotel masih sama seperti saat itu. Pada tahun 1942, Jepang mengambil alih hotel ini dan menamakannya Yamato Hoteru hingga 1945 ketika Belanda kembali datang dan merebut kembali hotel ini kemudian keluarga Sarkies kembali memiliki hotel ini pada tahun 1946.

Sumber:
http://properti.kompas.com/read/xml/2010/03/12/19131684/hotel.majapahit.surabaya.bangunan.art.deco.bersejarah.

Kehidupan Sehari-hari Masa Pendudukan Jepang



Kekejaman, pemerasan, kelaparan, kemiskinan, kesengsaraan adalah kata-kata yang sering terlontar ketika kita berbicara mengenai sejarah Indonesia pada masa pendudukan Jepang. Pendapat tersebut tidak sepenuhnya salah tetapi tidak juga sepenuhnya benar jika kita membaca artikel yang ditulis oleh Shigeru sato yang berjudul “Daily Life in Wartime Indonesia, 1939-1949”. Sato berusaha seobjektikf mungkin memaparkan bagaimana kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia di bawah pendudukan Jepang. Ia sendiri tidak menutupi ada keburukan selama pendudukan, tetapi selain itu ia juga memaparkan beberapa peristiwa yang mungkin tidak pernah kita bayangkan sebelumnya jika kita berbicara tentang pendudukan Jepang.

Tulisan ini menguraikan beberapa permasalahan dalam kehidupan sehari-hari. Bagian yang pertama yaitu berkaitan dengan pengemis, prostitusi dan pekerja. Masalah sosial diatas sebenarnya sudah ada sebelum masa perang. Salah satu penyebabnya adalah depresi ekonomi pada 1930an yang menyebabkan pengurangan pekerja dalam jumlah besar. Pada masa pendudukan Jepang awal 1942, jumlah dari para pencari kerja meningkat di kota-kota, kebanyakan dari mereka yang sebelumnya bekerja sebagai pegawai di perusahaan kolonial. Mulai tahun 1943, Jepang membentuk kampanye untuk ‘mobilisasi total’. Hal ini ditujukan tidak hanya untuk mengurangi masalah pengangguran, tetapi juga menciptakan tenaga kerja yang disebut romusha. Seringkali mereka dipekerjakan untuk membangun fasilitas militer Jepang.

Selanjutnya dibahas juga masalah anak-anak dan sekolah. Pemerintah pendudukan Jepang mereformasi sistem pendidikan dan kurikulum peninggalan Belanda. Tenaga guru pribumi juga mulai direkrut. Untuk mengatasi masalah kekurangan bangunan sekolah, Jepang memperkenalkan dua sistem waktu belajar (pertama pukul 8.30-13.30 dan kedua pukul 13.30-18.30). Mengenai bidang pendidikan, banyak sekali perubahan ke arah positif selama pendudukan Jepang, diantaranya penggunaan bahasa Indonesia, perluasan radio sebagai media pendidikan (walaupun juga digunakan sebagai propaganda), menciptakan sistem pendidikan yang berbasis moral dan fisik. Jepang juga mengenalkan pendidikan yang berkaitan dengan perkebunanan dan produksi kerajinan tangan.

Masalah berikutnya adalah tentang kekurangan bahan makanan dan pakaian. Masa pendudukan Jepang bisa dikatakan sebagai masa yang kelam, dimana banyak daerah di Indonesia kekurangan bahan makanan bahkan bahan pakaian sekalipun. Akan tetapi dalam artikel ini dijelaskan bahwa masalah tersebut bukan kesalahan dari pendudukan Jepang belaka. Kondisi di atas telah dibentuk oleh pemerintah kolonial ketika mereka melakukan politik ‘bumi hangus’ dengan cara membakar dan merusak fasilitas pertanian dengan tujuan supaya tidak dapat digunakan oleh Jepang. Tindakan tersebut jelas memperburuk keadaan.

Demikan pula dengan bahan pakaian, banyak dari penduduk Indonesia yang menggunakan karung goni sebagai pakaian mereka. Hal tersebut dikarenakan mayoritas bahan pakaian di Indonesia adalah berasal dari Impor yang dilakukan pemerintah kolonial Belanda. Untuk mengatasi hal tersebut, Pemerintah Jepang mulai membangun lahan tanaman kapas, diantaranya 180.000 ha di Jawa dan 140.000 ha di Sumatera. Sementara itu, untuk mengatasi kekurangan bahan makanan, Jepang mulai memobilisasi pekerja dalam jumlah besar untuk penanaman padi dan membangun irigasi dan sistem drainase (sedikitnya 62 tempat di Jawa dan Madura).

Hal yang menarik dalam artikel ini adalah berkaitan dengan rekreasi dan budaya. Meskipun berada di tengah kondisi serba kekurangan, pemerintah Jepang tetap memperhatikan sarana hiburan untuk masyarakat Indonesia, antara lain dengan mengadakan pertunjukan wayang dan teater bagi anak sekolah. Pada awal 1944 Jepang juga memiliki 15 tim di Jawa untuk mengadakan pertunjukan film bagi 126.000 romusha dalam dua minggu. Pertunjukan film menjadi hiburan tersendri bagi masyarakat Indonesia meskipun film yang ditampilkan berkaitan dengan propaganda pemerintah Jepang. Perkembangan kesenian ditunjukan juga dengan berkembangnya sandiwara.

Penderitaan Romusha dan Juguniafu memang menjadi sebuah fakta. Akan tetapi perbaikan sistem pendidikan, perkembangan bahasa Indonesia, pemakaian sistem Tonarigumi (Rukun Tetangga), hingga penyelenggaraan sandiwara dan film juga menjadi fakta yang menarik dan hal itu semua belum banyak terurai dalam penulisan sejarah Indonesia. Oleh karena itu, dengan membaca artikel ini, dapat membuka wawasan baru, bahwa sejarah ‘ordinary people’ sungguh menarik, terlebih dalam kondisi perang yang mungkin kita hanya dapat membayangkan sebuah kondisi ketegangan atau ketakutan belaka.

Just For Fun (1)



Ternyata kampanye 'bike to work' sudah dilakukan oleh Presiden pertama kita,hehe,,,

Perdagangan Ilegal dan Perjuangan Kemerdekaan Indonesia

Jika kita membaca judul tersebut mungkin terdengar aneh..lah apa hubunganya perdagangan ilegal dengan perjuangan Bangsa Indonesia?? dimana-mana perdagangan ilegal pasti merugikan bangsa ini..contohnya saja saat ini, banyak perdagangan ilegal seperti kayu, pasir, BBM dan lain sebagainya ke negara-negara tetangga antara lain Malaysia dan Singapura. Ataupun sebaliknya, banyak barang-barang ilegal yang masuk ke Indonesia tanpa membayar pajak terlebih dahulu. jelas, itu semua berdampak buruk bagi bangsa Indonesia.

Tetapi tidak dengan cerita perdagangan ilegal yang terjadi sekitar tahun 1945-1949.
Setelah mengumumkan proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, selanjutnya banyak terjadi pertempuran di mana-mana, karena ketika itu Belanda dengan berbagai cara berusaha untuk dapat menduduki dan berkuasa kembali di wilayah nusantara ini. Usaha tersebut mendapat tantangan dan perlawanan yang tidak pernah berhenti dari rakyat Indonesia.

Melihat kondisi tersebut pemerintah tidak dapat berbuat banyak, mengingat kondisi pemerintah RI belum kuat, baik secara institusional maupun secara fisik yaitu dengan sering terjadi pergantian kabinet dan perubahan kebijaksanaan pemerintah. Pada masa revolusi fisik tahun 1945-1949, pergantian kabinet terjadi sebanyak lima kali yaitu Kabinet Soekarno-Hatta, Syahrir I (14 Nopember 1945), Syahrir II (12 Maret 1946), Amir Syarifuddin (5 Juli 1947) dan Kabinet Hatta (29 Januari 1948). Bersamaan dengan pergantian kabinet, terjadi juga perubahan kebijaksanaan di bidang ekonomi dan politik berupa diplomasi dan perdagangan khususnya perdagangan laut.

Konflik politik tersebut terus dimanfaatkan oleh Belanda dengan terus mengadakan kontak senjata dan perundingan-perundingan yang kemudian diingkarinya. Ini merupakan politik ‘adu domba’ Belanda, agar pemerintahan RI terjadi perbedaan dan perdebatan yang berakhir dengan perpecahan antara orang Indonesia sendiri. Situasi perang saat itu tentu saja sangat berpengaruh terhadap perkembangan ekonomi. Terlebih lagi, Belanda dalam usaha menguasai kembali Indonesia melakukan aksi di bidang perekonomian dengan politik blokade ekonomi.

Politik blokade ekonomi ini merupakan usaha Belanda untuk menutup seluruh wilayah Indonesia bagi barang-barang yang masuk maupun yang keluar baik melalui jalur udara, darat dan khususnya jalur laut. Dengan kekuatan angkatan lautnya, Belanda berusaha memotong hubungan perdagangan dan pelayaran laut RI dengan Negara lain maupun antar pulau di wilayah Indonesia.

Blokade ekonomi yang dilakukan oleh Belanda bertujuan untuk menghambat perdagangan Indonesia dan menghalang-halangi untuk mendapatkan persediaan barang-barang yang diperlukan dalam perang atau pertahanan diri. Dengan menekan pedagang-pedagang Indonesia, aktivitas pelayaran dan perdagangan laut terhambat dan bisa mengakibatkan semakin hancurnya ekonomi Indonesia. Selanjutnya diharapkan Indonesia dapat dengan mudah untuk dikuasai kembali oleh Belanda.

Usaha Menembus Blokade Laut Belanda
Jika aktivitas pelayaran dan perdagangan Indonesia terhenti karena adanya blokade Belanda di seluruh wilayah Indonesia, maka akan sangat berpengaruh terhadap aktivitas Indonesia di luar negeri baik dibidang politik maupun ekonomi. Dengan demikian untuk mempertahankan kedua aktivitas tersebut, pemerintah Indonesia berusaha menembus blokade Belanda dengan berbagai cara. Diantaranya dengan menggunakan kapal tongkang, speedbooat dan lain-lain. Akan tetapi operasi menembus blokade laut Belanda dengan menggunakan cara tersebut tidak selamanya berhasil. Kegagalan itu selain karena blokade laut Belanda yang semakin ketat, juga karena peralatan patroli Belanda semakin canggih/modern.

Selama operasi menembus blokade laut Belanda, Indonesia juga mendapat dukungan dan bantuan dari para pedagang asing antara lain pedagang Cina, Inggris, India, Melayu dan lain-lain. Dukungan dan bantuan itu salah satunya berupa pemberian tumpangan bagi para utusan/wakil-wakil Indonesia dan kadang-kadang menjadikan mereka sebagai ABK (anak buah kapal) untuk sementara.

Usaha untuk menembus blokade laut Belanda juga dilakukan oleh TNI AL dan pedagang-pedagang pribumi serta pedangan asing dari Cina, Melayu, India. Usaha untuk menembus blokade laut Belanda tersebut menggunakan teknik “silent raid”, yaitu dengan menyusuri pantai-pantai pada malam hari. Di samping itu operasi ini juga memanfaatkan pelabuhan-pelabuhan kecil/rakyat dan muara sungai untuk menghindari patroli dari Belanda, antara lain pelabuhan Bilik, Tanjung Batu, Tanjung Balai, Muntok, Muara Sungai paneh, dan lain-lain.

Pelayaran dan Diplomasi
Aktivitas pelayaran dan perdagangan ilegal yang telah dijelaskan sebelumnya ternyata banyak memberikan dukungan dan sumbangan bagi perjuangan bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari rongrongan penjajah Belanda. Selain memberikan sumbangan dalam bidang ekonomi, aktivitas tersebut juga memberikan dukungan dalam bidang politik yaitu kaitannya dengan hubungan luar negeri.

Dengan adanya situasi yang sangat genting akibat usaha Belanda untuk berkuasa kembali di Indonesia melalui tindakan militer/agresi dan pemblokadean seluruh Indonesia, maka pemerintah Indonesia mengambil kebijaksanaan untuk menyelesaikan masalah Indonesia-Belanda dengan jalan perundingan. Untuk mendukung kebijaksanaan tersebut pemerintah tetap melakukan aktivitas pelayaran dan perdagangan ekspor-impor. Aktivitas ini harus tetap dilakukan karena dengan adanya aktivitas pelayaran dan perdagangan, kebutuhan yang mendesak yaitu ekonomi dan militer untuk sementara dapat dipenuhi. Selain itu diplomasi dengan negara-negara lain juga sangat diperlukan untuk mendukung posisi Indonesia di dunia internasional. Oleh karena itu tetap eksisnya aktivitas pelayaran dan perdagangan sangat menguntungkan Indonesia.

Keberhasilan aktivitas tersebut terbukti dengan keberhasilan Indonesia mendirikan kantor-kantor perwakilan di luar negeri. Kantor perwakilan Indonesia yang pertama kali dibuka yaitu di Singapura tahun 1947. Singapura merupakan satu-satunya tempat yang paling mudah dijangkau secara fisik geografi dan sebenarnya sepanjang tahun 1946 dan 1947 telah banyak pemuda-pemuda Indonesia yang pergi ke Singapura.
Mereka berangkat dari tempat-tempat di pantai Jawa dan Sumatera dengan memakai kapal-kapal tongkang. Pemuda-pemuda yang pergi ke Singapura tersebut merupakan wakil/utusan dari berbagai instansi/kelompok seperti dari kementrian Luar Negeri RI, ALRI pangkalan IV Tegal, kementerian pertahanan RI dan lain-lainnya. Pada dasarnya Singapura bagi Indonesia merupakan tempat dan pusat aktivitas diplomatik atau politik dengan dunia luar.

Selama perundingan dengan Belanda pemerintah Indonesia sangat memerlukan berita Internasional yaitu pandangan dan pendapat negara-negara anggota PBB terhadap tindakan yang dilakukan Belanda di Indonesia. Hal ini sangat diperlukan karena dengan adanya respons dan dukungan serta dorongan negara-negara lain akan menambah keyakinan dan semakin kuatnya kedudukan Indonesia di dunia Internasional. Dengan demikian pemerintah Indonesia dapat menempatkan wakil-wakil diplomatiknya di berbagai negara.

Perwakilan-perwakilan Indonesia yang dapat dibuka antara tahun 1947-1950 adalah Penang (Syahrudin), Rangoon (Maryunani), Bangkok (Izak Mahdi), New Delhi (Dr. Sudarsono), Karachi (Idham), Kabul (Mayjen Abdul Kadir), Kairo (H. Rosyidi), London (Dr. Subandrio), New York (L.N. Palaar), dan Canbera (Mr. Oesman Sastroamidjoyo). Dengan dibukanya lembaga perwakilan di berbagai negara menunjukan bahwa aktivitas pelayaran dan perdagangan sangat besar sumbangan dan dukungannya bagi perjuangan bangsa Indonesia mempertahankan kemerdekaannya.

Pada hakikatnya dasar dan jiwa dari perjuangan bangsa Indonesia dalam usaha mempertahankan kemerdekaan adalah adanya hasrat untuk mencari atau mendapatkan hubungan persahabatan dengan negara-negara dan bangsa-bangsa di dunia. Dengan demikian jelaslah bahwa hubungan antara bangsa dan negara dalam masyarakat dunia sangat penting. Persahabatan yang terjalin dengan erat akan membuahkan adanya rasa tanggung jawab dan tolong-menolong antar sesama negara.
Dengan cara demikian diharapkan para duta atau wakil diplomatik Indonesia di Luar negeri dapat semakin mempererat tali persahabatan, sehingga akan memunculkan rasa simpati terhadap Indonesia yang mendapat tekanan dari Belanda. Akan tetapi jalinan tali persahabatan ini, pada akhirnya tidak hanya memunculkan rasa simpatik saja tetapi juga berupa tindakan-tindakan kecaman antara lain dengan mengusulkan supaya Belanda dikeluarkan dari PBB maupun dengan penghentian bantuan bagi Belanda yang dilakukan negara-negara sekutunya.

Daftar Pustaka
Loebis, Aboe Bakar. 1992. Kilas Balik Revolusi: Kenangan Pelaku dan saksi. Jakarta: UI Press, 1992.
Moedjanto, G. 1988. Indonesia Abad ke-20 Jilid I, dari Kebangkitan Nasional sampai Linggrjati. Yogyakarta: Kanisius.
.Indonesia Abad ke-20 Jilid II, Dari Perang Kemerdekaan I sampai Pelita III. Yogyakarta: Kanisius
Muchtar, Kustiniyati. 1992. Memoar Pejung RI seputar Zaman Singapura 1945-1950. Jakarta: Gramedia.
Nasution, A.H. 1978. Sekitar Perang Kemerdekaan RI 4. Bandung: Disejarah AD dan Ankasa
Tim Disej. TNI AL. 1973. Sejarah TNI Angkatan Laut Periode Perang Kemerdekaan 1945-1950. Jakarta: Disej. TNI AL.
Yong Mun Cheong. “Indonesia’s Singapura Connection 1945-1949”, makalah Konferensi Internasional Revolusi Nasional, Jakarta 11-14 Juli 1995.