Jumat, 16 April 2010

ANALISIS KITAB PARARATON

Penulisan sejarah atau historiografi dari waktu ke waktu selalu berbeda. Seorang yang menuliskan sejarah pasti dipengaruhi oleh jiwa jaman pada masanya atau disebut “zeitgeist”. Selain itu ada beberapa faktor yang juga ikut mempengaruhi historiografi, antara lain faktor sosial-politik, sosial-ekonomi dan sosial-budaya.Menurut Sartono Kartodirdjo, di dalam historiografi Indonesia terdapat tiga tahap perkembangannya, yaitu tahap tradisional, tahap kolonial, dan tahap modern. Ketiganya mempunyai ciri-ciri tersendiri. Tiga tahap historiografi di Indonesia tersebut sebaiknya kita pahami untuk memeperoleh pengetahuan tentang arah atau kecenderungan pemikiran dan penulisan tentang masa lampau sehingga kita bisa merekontruksi Sejarah Indonesia.
Tahapan historiografi Indonesia yang paling awal yaitu historiografi tradisonal, contohnya seperti Babad, Hikayat, Silsilah atau kronik. Historiografi pada tahap ini mengadung unsur-unsur seperti mitos, legenda, magis dan ramalan, tetapi juga terdapat fakta sejarah. Fakta sejarah inilah yang perlu kita cari untuk merekonstruksi cerita yang sebenarnya. Tentu saja hal ini memerlukan penelitian serta interpertasi yang tidak mudah.
Salah satu historiografi Indonesia pada tahap tradisional adalah Pararaton yang ditulis pada akhir abad ke XV, dalam bentuk prosa (gancaran). (Poesponegoro, 1993:397) Pararaton adalah satu-satunya karya tentang sejarah Singasari dan Majapahit yang benar-benar dimaksudkan sebagai karya sejarah. Namun uraiannya dibatasi sampai kepada para raja di Singasari dan Majapahit saja (raja-sentris). Tidak menyajikan uraian tentang apa yang terjadi di luar istana raja. Pararaton menyajikan uraian tentang alur keluarga para raja, tanggal wafatnya masing-masing dan tempat candi makamnya, serta disana sini ditambah dengan kisah pribadi para pelaku dan raja yang bersangkutan. (Slamet Muljana, 1983: 35-36) Selain itu, tentu saja Pararaton yang termasuk historiografi tradisional banyak terkandung unsur-unsur yang menurut Sartono adalah unsur religio-magis dan kosmogonis yang berdasarkan dari ajaran agama Hindu-Budha yang berkembang pada waktu itu.

UNSUR RELIGIO-MAGIS
Dalam lingkungan sosio-kultural dari historiografi tradisional contohnya Pararaton ini, ada kekuatan religio-magis yang menggerakan sejarah. Unsur-unsur ini dipengaruhi oleh alam pikir masyarakat pada waktu itu yang menganut agama Hindu dan Budha, diantaranya:
1) Kelahiran Ken Arok
Menurut Kitab Pararaton Ken Arok adalah penjelmaan kembali seorang yang pada waktu hidupnya di dunia merupakan seorang yang bertingkah laku tidak baik, tetapi karena ia sanggup dijadikan korban untuk dewa penjaga pintu, maka ia dapat kembali ke Wisnubhawana. Dengan tujuan setelah hidup kembali di dunia supaya menjadi orang yang lebih baik. Dari sini dapat dilihat adanya doktrin utama Hinduisme, yaitu bahwa manusia dapat berkumpul kembali dengan brahmana, setelah mencapai kesempurnaan hidup. Sebelum itu, tiap kali ia akan kembali ke dunia. Rangkaian hidup-mati berulang kali, yang perlu dijalani untuk mencapai kesempurnaan itu dalam agama Hindu disebut samsara.
Ken Arok dikatakan adalah sebagai putra Bhatara Brahma dengan Ken Endok akibat persetubuhan Dewa Brahma. Di sini dimaksudkan memberikan cerita bahwa walaupun Ken Arok lahir dari ibu yang hanya sebagai petani, tetapi mengaitkan dengan Dewa Brahma, sebagai dewa tertunggi pencipta semesta alam dalam mitologi Hindu. Hal ini akan berkaitan dengan cerita kehidupannya Ken Arok di dunia.
Ketika menjadi bayi, ken Arok telah menunjukan keistemawaan, karena tubuhnya Ken Arok yang diceritakan dapat mengeluarkan sinar. Inilah yang menyebabkan seorang pencuri bernama Lembong mengambil Ken Arok menjadi anak, karena melihat sinar cahaya dari dirinya ketika bayi. Dapat dijelaskan bahwa sinar yang dalam bahasa Sansekerta Prabha diisyaratkan sebagai lambang keluhuran budi, kesucian jiwa dan kemurnian hati orang yang bersangkutan. (Muljana, hal 43-44)
2) Peranan Dewa Siwa
Untuk menunjukan kebesarannya, Ken Arok juga disebutkan sebagai titisan dari Dewa Wisnu. Dalam kitab Pararaton dijelaskan bahwa ada seorang Brahmana dari India datang ke Pulau Jawa untuk mencari Dewa Wisnu yang menjelma sebagai seseorang di Pulau Jawa, yang bernama Ken Arok.
Dalam mitologi Hindu, Dewa Wisnu dianggap sebagai penyelamat dunia. Dalam cerita ini, Ken Arok sebagai titisan Dewa Wisnu mempunyai tugas untuk menyinarkan bahaya yang mengancam kelestarian Pulau Jawa. Yang dimaksud dengan bahaya adalah Raja Kertajaya di Kediri. Sebelum berhasil, maka tugas Ken Arok di dunia belum selesai. Dewa Wisnu tidak pernah gagal dalam menunaikan tugasnya. Demikianlah Ken Arok akan selalu dibantu oleh para Dewa sebelum dapat menyelesaikan tugasnya. Hal ini dapat dilihat dalam Pararaton, yaitu ketika Ken Arok dalam keadaan yang membahayakan jiwanya, seperti ketika dikejar oleh orang-orang desa, Ken Arok dapat mengatasinya dan berhasil lolos. (Muljana, hal. 45) Selain itu untuk melegitimasikan Ken Arok sebagai seorang raja yang diberkahi para Dewa, maka diceritakan bahwa Ken Arok merupakan orang yang terpilih dari musyawarah para Dewa di Gunung Lejar. Ken Arok dipilih karena ia memang seorang putra dari Bhatara Guru atau putra Bhatara Siwa.
3) Ken Dedes Sebagai Ardhanareswari
Setelah brahmana Lohgawe bertemu dengan Ken Arok, kemudian Ken Arok di bawa ke Tumapel untuk dipertemukan dengan akuwu Tunggul Ametung dan dapat diterima sebagai pembantunya. Selanjutnya diceritakan bahwa Tunggul Ametung mempunyai istri yang sangat cantik bernama Ken Dedes. Ken Dedes diceritakan sebagai putri dari pendeta di Panawijen yang bergelar Mpu Purwa. Kecuali cantik, Ken Dedes juga seorang wanita susila yang telah matang dalam ilmu, karena telah mempelajari karma amamadangi yaitu laku utama yang menuntun ke kesempurnaan yang diturunkan oleh ayahnya.
Diceritakan bahwa, Ken Arok jatuh cinta kepada Ken Dedes di taman Baboji setelah ia melihat Ken Dedes turun dari kereta dan betisnya mengeluarkan cahaya. Kemudian Ken Arok menanyakan kepada brahmana Lohgawe dan menurutnya, seorang wanita yang rahasianya menyala adalah seorang wanita yang sangat utama, namanya ardhanareswari. Ia adalah wanita bertuah yang akan membawa bahagia, siapapun yang memperistrinya, akan menjadi raja besar.
Dalam mitologi Hindu para Dewa masing-masing mempunyai istri, termasuk Bhatara Siwa mempunyai istri Dewi Parwati. Dalam perkawinannya dengan Dewa Siwa, Dewa Parwati disebut ardhanareswari. Oleh karena dalam Pararaton Ken Dedes disebut ardhanareswari, maka Ken Dedes disamakan dengan Dewi Parwati. Sedangkan Ken Arok seperti yang sudah dijelaskan di atas adalah sebagai titisn Dewa Wisnu, maka sudah selayaknyalah Ken Dedes dan Ken Arok menjadi suami istri.
5) Kepercayaan terhadap kutukan/umpatan
Dalam Pararaton terdapat beberapa cerita yang mengisahkan seorang tokoh mengutuk atau mengumpat, antara lain ketika Mpu Purwa ayah dari Ken Dedes yang mengutuk Tunggul Ametung setelah menculik anaknya, dalam Pararaton sebagai berikut: “ semoga yang melarikan anakku tidak lanjut mengenyam kenikmatan, semoga ia ditusuk keris dan diambil istrinya,….” Ternyata pada kisah berikutnya umpatan tersebut menjadi kenyataan, yaitu ketika Tunggul Ametung tewas ditusuk keris buatan Mpu Gandring oleh Ken Arok.
Selain itu umpatan juga di berikan kepada Ken Arok oleh Mpu Gandring, yaitu:
“buyung Arok, kelak kamu akan mati oleh keris itu, anak-cucumu akan mati karena keris itu juga”, Mpu Gandring yang sedang sekarat menjatuhkan umpat kepada Ken Arok, bahwa ia juga akan mati karena tusukan keris Gandring itu, bahkan tidak hanya Ken Arok, tetapi juga keturunannya akan mengalami hal yang sama. Dalam Pararaton memang terdapat uraian tentang kematian Anusapati anak Ken Dedes dari Tunggul Ametung yang menjadi raja kedua dan Nararya Tohjaya anak Ken Arok dari Ken Umang yang menjadi raja ketiga akibat tusukan keris Gandring.
Hal tersebut ditafsirkan sebagai terkabulnya umpat Mpu Gandring. Umpat yang dijatuhkan seseorang yang sakti, seorang raja atau orang tua kepada anaknya. Kepercayaan kepada umpat dalam masyarakat Jawa tidak hanya terdapat dalam berbagai bentuk dongeng dalan sastra Jawa, tetapi saat ini juga benar-benar masih dirasakan. (Muljana, hal. 58-59)

UNSUR KOSMOGONIS
Unsur kosmogonis yaitu unsur-unsur yang berkaitan dengan kekuatan alam. Penulisan Pararaton juga tidak terlepas dari unsur ini, yang terlihat pada konsep berulang-ulang atau setengah siklis dalam urutan kejadian-kejadian.
1) Konsep Gunung
Unsur kosmogonis pada kitab Pararaton dapat ditunjukan pada uraian tentang permusyawarahan para dewa di Gunung Lejar. Gunung dalam mitologi Hindu juga dianggap sebagai tempat yang suci dan merupakan tempat kediaman para dewa. Gunung-gunung di Pulau Jawa didentifikasikan sebagai ceceran dari Gunung Mahameru yang berada di Jambudwipa (India) yang akan dipindahkan ke Yawadipa (Jawa). Gunung Mahameru itu berada di pusat pulau maha besar yang disebut Jambudwipa (India), sedangkan keseluruhan kosmos terdiri dari tujuh Dwipa (pulau), yang masing-masing dikelilingi oleh lautan yang luas.(Edi Sedyawati, 1993: 45)
Penggambaran para dewa yang terletak di gunung itu juga menggambarkan alam kehidupan dalam kosmologi Hindu. Secara vertikal, alam kehidupan dalam kosmologi dibagi tiga, yang teratas disebut swarloka atau swarga, yaitu tempat dewa-dewa serta para pendamping dan pengiringnya. Bagian tengah disebut bhuwarloka, yaitu tempat manusia hidup. Adapun yang terbawah disebut bhurloka.
2) Bencana Alam
Unsur kosmologi di dalam Pararaton juga sering kita temukan, yaitu ketika menerangkan kejadian alam seperti gunung meletus, gempa bumi hingga masa kekurangan pangan. Ada sekitar lima letusan gunung yang diceritakan pada masa Kerajaan Majapahit. Bencana alam tersebut dipercaya sebagai tanda akan terjadinya pralaya. Inilah yang menyebabkan beberapa raja memindahkan pusat kerajaannnya.
Pandangan kosmogoni Hindu menyatakan bahwa alam semesta ini diciptakan dan dihancurkan secara berkala. Setiap zaman yang berlangsung berjuta-juta tahun, diawali dengan penciptaan (srsti), kemudian menyusul tahap pemeliharaan (stihiti) dan diakhiri dengan penghancuran kembali (pralina/pralaya). Ketiga tahap tersebut merupakan tugas masing-masing dari dewa Brahma, Wisnu, dan Siwa. Demikian juga dengan sebuah kerajaan, dipercaya juga mengalami proses seperti itu. Pada setiap keberadaan dunia dan juga kerajaan itu, pada tahap pemeliharaan dibagi lagi ke dalam 4 zaman besar yang disebut yuga, yaitu:
1. Kertyuga (zaman emas). Dalam zaman ini tidak ada kejahatan sama sekali. Maka manusia tidak memerlukan kitab suci.
2. Tretayuga (zaman perak), manusia sudah kenal baik dan buruk. Maka manusia memerlukan sebuah kitab suci (weda) sebagai bimbingan dan pegangan hidup.
3. Dwarapuga (zaman perunggu). Kejahatan meningkat, oleh karena itu manusia memerlukan dua buah kitab suci weda untuk memimpinnya ke arah kebaikan.
4. Kaliyuga (zaman besi). Pada zaman ini, kejahatan semakin meningkat dan semakin lama semakin hebat. Manusia diberi tiga buah kitab weda untuk dapat mengekang diri, agar jangan sampai terjerumus ke dalam kejahatan.
3) Struktur Pemerintahan dan Gelar Raja
Dari uraian Pararaton mengenai pemerintahan Kerajaan Majapahit, seperti raja, raja daerah (bhre), patih, menteri, disebutkan pula adanya golongan darmaputra-radja, jabatan demang dan temenggung. Struktur pemerintahan Kerajaan Majapahit yang bersifat territorial dan desentralisasi ini dipengaruhi juga oleh kepercayaan yang bersifat kosmogonis. Berdasarkan konsep ini maka seluruh kerajaan dianggap sebagai replika dari jagad raya, dan raja Majapahit disamakan dengan dewa tertinggi yang bersemayam di puncak Mahemeru. Wilayah Kerajaan Majapahit yang terdiri atas negara-negara daerah juga disamakan dengan tempat tinggal para dewa lokapala (dewa penjaga arah mata angin) yang terletak di keempat penjuru mata angin. Unsur kosmologi, juga dapat kita lihat dari pemberian nama atau gelar raja. Salah satunya yang terdapat pada kitab Pararaton, yaitu Baginda Wirabumi. Wirabumi berasal darikata Wira/perwira yang artinya pahlawan/ksatria yang gagah berani dan bumi yang artinya dunia. Jadi dapat diartikan Wirabumi itu sebagai Pahlawan yang gagah dan berani di dunia.

FAKTA SEJARAH
Kitab Pararaton menurut Soekmono, sangat kurang dapat dipercaya. Hal ini dikarenakan isinya lebih bersifat dongeng. Mula-mula diuraikan riwayat Ken Arok yang penuh kegaiban, hingga raja-raja yang berkuasa di Singasari dan Majaphit dengan disertai angka tahun yang tidak cocok.(Soekmono, 1973:120) Tetapai bagaimanapun juga, Pararaton mempunyai fakta sejarah yang tentu saja tidak dapat berdiri sendiri. Maksudnya adalah, Pararaton sebagai sumber sejarah tradisional, juga harus diperkuat oleh beberapa sumber sejarah lainnya, seperti kitab Negarakertagama, dan prasasti-prasasti yang bersangkutan. Beberapa fakta sejarah yang ada dalam Pararaton, antara lain:
1) Tentang nama-nama tokoh
Contohnya saja tokoh Anusapati. Menurut Negarakretagama maupun Pararaton menyatakan bahwa Sang Anusapati menjadi raja di Tumapel sepeninggal Raja Rajasa (Ken Arok) pada tahun 1248. Selain itu adanya candi makam di Kidal merupakan bukti nyata bahwa Sang Anusapti memang tokoh sejarah, karena dalam Pararaton diceritakan bahwa setelah wafat, Sang Anusapati dicandikan di Candi Kidal.
Selain itu tokoh Nararya Tohjaya juga merupakan sebuah fakta sejarah tentang seorang raja di Tumapel sesudah masa pemerintahan Sang Anusapati. Sebelumnya tokoh ini hanya dikenal dari pernyataan Pararaton, namun di dalam prasasti Mula-Malurung maka kesejarahan tokoh Tohjaya dapat ditetapkan. Selain itu hampir semua tokoh-tokoh sejarah di sekeliling Nararya Tohjaya yang disebutkan dalam Pararaton ditemukan juga pada prasasti Mula-Malurung seperti Pranaraja, Panji Patipati, Ranggawuni.
Pararaton juga mengatakan bahwa Mahisa Cempaka yang kemudian mengambil nama Narasinga diangkat sebagai ratu angabhaya (wakil raja). Hal ini juga merupakan fakta sejarah, karena pernyataan itu juga diperkuat oleh prasasti Penampihan, bertarikh 31 Oktober 1269, karena prasasti menyebut nama Narasingamurti sebagai penguasa yang tertinggi di negara Tumapel.(Muljana: 83)
2) Tentang peristiwa penting
Banyak sekali peristiwa penting dalam Pararaton yang menjadi fakta sejarah walaupun tariknya banyak yang berbeda dari sumber yang lain. Tetapi paling tidak penyebutan atau nama dari peristiwa tersebut sama dengan sumber yang lain. Karena Pararaton bersifat raja-sentris dan istana-sentris, maka peristiwa itu berkaitan dengan munculnya suatu kerajaan, naik pangkat serta wafatnya raja-raja, dan silsilah para raja.
Selain itu juga terdapat beberapa peristiwa yang lainnya, diantaranya mengenai ekspedisi militer ke Malayu yang dilancarkan oleh Sri Kertanagara pada tahun 1275. pernyataan ini didukung oleh Negarakretagama pupuh XLI/5 yang menyatakan bahwa alasan pengiriman ekspedisi militer ke Negeri Malayu pertamanya dimaksudkan untuk menakut-nakuti penguasa Negeri Malayu agar mau tunduk secara damai, tanpa melalui perang. Peristiwa tersebut juga didukung beberapa prasasti, diantaranya prasasti Amoghapasa yang dikeluarkan oleh Sri Kertanagara pada tanggal 22 Agustus 1286 dan ditujukan kepada Raja Tribhuwanaraja Mauliwarmadewa di Suwarnabhumi (Malayu). Diceritakan bahwa ekspedisi militer ke Suwarnabhumi tersebut berhasil dengan gemilang. (Muljana: 93)
Pararaton menyajikan uraian panjang tentang perang antara tentara Tumapel di bawah pimpinan Raden Wijaya (Nararya Sanggramawijaya) dengan tentara Gelang-Gelang yang datang dari jurusan utara. Pada peristiwa itu, diceritakan bagaimana Raden Wijaya harus keluar masuk hutan dan sampai di rumah kepala desa Pandakan untuk beristirahat dan melanjutkan perjalanan ke Madura untuk meminta bantuan kepada Adipati Wirarja di Sumenep.
Pandakan terletak di sebelah barat daya Bangil di seberang selatan Sungai Porong. Di lereng Gunung Butak di Kabupaten Majakerta di temukan lempengan tembaga berisi prasasti bertarikh 11 September 1294, terkenal dengan prasasti Kudadu tentang anugrah tanah Kudadu kepada kepala desa Kudadu atas jasanya kepada Raden Wijaya dalam perjalanan ke Madura.(Muljana: 110)
3) Tentang letak suatu tempat
Pararaton mengisahkan bahwa Raden Wijaya setelah mengabdi kepada Raja Jayakatwang di Kediri, atas nasihat Aria Wiraraja meminta untuk membuka hutan Tarik, yang nantinya akan berkembang menjadi kerajaan Majapahit. Pararaton juga menceritakan sangat jelas tentang asal-usul nama kerajaan Majapahit dan juga letaknya. Nama Majapahit berasal dari kata buah maja yang rasanya pahit.
Saat ini di sepanjang lembah Sungai Brantas masih banyak ditemukan pohon maja. Di sepanjang lembag Sungai Brantas juga ditemukan berbagai tempat dengan nama maja seperti: Majasari, Majawarna, Majakerta, Majajejer dan Majaagung. Majapahit terletak di sebelah selatan Trawulan, di sebelah kanan jalan Majagung-Majakerta. Pernyataan tersebut didukung dengan ditemukannya berbagai macam peninggalan arkeologi, seperti candi, pertirtaan, pintu gerbang dan juga berbagai artefak. Saat ini, letak pusat Kerajaan Majapahit dijadikan sebuah situs yang disebut dengan situs Trowulan yang tberada dalam wilayah administrasi kecamatan Trowulan dan Kecamatan Sooko kabupaten Mojokerto.
Letak candi sebagai tempat pemujaan setelah seorang raja wafat juga dapat kita temukan dalam Pararaton. Antara lain candi Kidal, candi Jago dan candi Singasari sampai saat in masih berdiri tegak, dan itu merupakan sebuah fakta sejarah yang tidak dapat kita pungkiri lagi.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

DUSTA SEJARAH
KISAH KEN AROK, PERANG BUBAT & SUMPAH PALAPA
(Analisa Penelusuran Isi Kitab Pararaton)
Bagian I

Created : Ejang Hadian Ridwan

Mohon maaf hanya diambil dari bagian akhir Artikel:

Dari statistik yang coba dikumpulkan, berdasarkan nama-nama orang atau para pelaku dalam Kitab Pararaton, terlihat hampir 85% nama-nama dalam nuansa yang biasa dalam pelafalan dan keseharian orang-orang Sunda, dari jumlah nama yang ada. Sekitar 55% nama-nama dalam nuansa yang biasa dalam pelafalan dan keseharian orang-orang jawa. Maka, ada selisih 30% adalah ada nama-nama yang biasa dipakai oleh kedua suku bangsa itu.

Berdasarkan data ini, dicoba untuk disimpulkan bahwa yang membuat kitab Pararaton adalah mereka yang kental sekali atau paham/fasih berbahasa Sunda. Dilihat dari daftar jumlah para pelaku yang terlibat dalam kitab Pararaton sungguh fantastis, terlihat dengan jumlah total lebih dari 200 nama, dengan nama-nama berbeda, walau pun dalam kitab Pararaton sendiri sering mengambil nama alias, artinnya 1 orang bisa mendapat nama 2 atau lebih nama, atau bisa juga 1 orang hanya mewaliki 1 nama.

Statistik ini memberikan ukuran jumlah nama, bukan jumlah orang, untuk sebuah buku yang hanya berjumlah 35-an lembar dengan format tulisan misal Tahoma dan skala font 11, sungguh fantastis bisa menghasilkan lebih dari 200 nama, sementara isi dari kitab pararaton sendiri bersifat semi fiksi, artinya si pengarang akan ada kesulitan besar dalam membuat dan menyesuaikan nama-nama tersebut sesuai urutan waktu kejadian dan tempat, dan diyakini akan muncul deviasi atau penyimpangan dari pemilihan-pemilihan nama-nama itu.

Penyimpangan-penyimpangan nama itu adalah keuntungan untuk para penganalisa, soalnya kecendrungan nama yang diberikan akan sangat terpengaruh oleh latarbelakang si pengarang atau pembuat, keuntungannya itu yaitu untuk menganalisa identitasnya walaupun hanya secara garis besar

Selengkapnya di http://www.menguaktabirsejarah.blogspot.com
Wassalam
Penulis
Ejang Hadian Ridwan